Forgot Password Register

Headlines

Defisit Transaksi Catat Sejarah, Jokowi: Semua Kok Impar-impor

Defisit Transaksi Catat Sejarah, Jokowi: Semua Kok Impar-impor Presiden Joko Widodo (Foto: Instagram/Jokowi)

Pantau.com - Presiden Joko Widodo mengakui adanya defisit yang besar pada transaksi berjalan dan neraca perdagangan Indonesia merupakan persoalan besar yang dihadapi Tanah Air.

"Yang namanya defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan itu memang persoalan besar kita, bolak balik saya sampaikan," kata Presiden Jokowi usai menebar benih ikan di Bendungan Rotiklot Kabupaten Belu, NTT, Senin (20/5/2019).

Menurutnya, rumus untuk mengatasi defisit neraca perdagangan adalah meningkatkan ekspor dan memproduksi barang-barang substitusi ekspor. "Kalau ekspor tidak meningkat, kemudian barang subtitusi impornya tidak diproduksi sendiri di dalam negeri, mau sampai kapan ini akan rampung," katanya.

Baca juga: Kelompok Bisnis Uni Eropa Mulai Komentar Transfer Teknologi China?

Lebih rinci Jokowi menyebutkan kunci menyelesaikan masalah itu adalah industrialisasi dan hilirisasi.

"Jangan sampai ngirim barang mentah, raw material ke luar negeri. Semuanya harus ada nilai tambah di dalam negeri, kuncinya di situ aja," jelasnya.

Ia menyebutkan pemerintah sudah berupaya mengurangi defisit neraca perdagangan.

"Contohnya avtur, nanti mulai bulan depan, udah nggak ada impor avtur dan solar karena sudah dikerjakan dalam negeri," tambahnya.

Baca juga: Pemudik Catat! Ada Pemberlakuan One Way di Tol Jakarta-Cikampek

Ia menyebutkan pemerintah juga mendorong tumbuhnya industri petrokimia di dalam negeri karena impor produk itu cukup besar.

"Semua kok impar-impor, sampai kapanpun defisit pasti terjadi kalau impor terus," katanya.

Sebelumnya BPS merilis hasil ekspor dan impor pada April 2019 serta laporan neraca perdagangan. Pada periode tersebut ekspor tercatat 12,6 miliar dolar AS atau turun 13,1 persen year on year. Sedangkan impor mencapai 15,10 miliar dolar AS atau turun 6,58 persen. Dengan hasil tersebut neraca perdagangan pada April 2019 mencatatkan defisit hingga 2,5 miliar dolar AS.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More