Pantau Flash
OJK Yakin Kredit Bank di 2020 Tumbuh 4 Persen di Tengah Pandemi
10 Tewas dan Ratusan Terluka Akibat Ledakan Dahsyat di Ibu Kota Lebanon
Ledakan Besar Guncang Beirut Lebanon, Banyak Korban Berjatuhan
Erick Thohir Pastikan Vaksin COVID-19 Produksi Bio Farma Halal
Padat Karya Tunai Desa Diyakini Serap 5,2 Juta Tenaga Kerja

Puan Sebut RUU BPIP Beda dengan RUU HIP, Tak Ada Pasal Kontroversial

Headline
Puan Sebut RUU BPIP Beda dengan RUU HIP, Tak Ada Pasal Kontroversial Ketua DPR Puan Maharani. (Foto: Antara)

Pantau.com - Ketua DPR RI Puan Maharani mengharapkan polemik Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) diakhiri.

"Kita kembali hidup rukun dan damai serta kompak bergotong-royong melawan pandemi COVID-19 dan dampak-dampaknya," ujar Puan usai menerima Surat Presiden (Surpres) terkait RUU Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dari para Menteri yang mewakili Presiden Joko Widodo di Kompleks Parlemen RI, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2020).

Puan mengatakan RUU BPIP secara substansi berbeda dengan RUU HIP yang mendapat penolakan dari masyarakat. Substansi yang terdapat dalam RUU BPIP hanya memuat ketentuan tentang tugas, fungsi, wewenang, dan struktur kelembagaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, tidak seperti RUU HIP.

Baca juga: Dasco: Hari Ini Dipastikan Tak Ada Pengesahan RUU HIP dan RUU Omnibus Law

"Konsep yang disampaikan pemerintah berisikan substansi RUU BPIP, yang terdiri dari 7 Bab dan 17 Pasal, berbeda dengan RUU HIP yang berisikan 10 Bab dan 60 Pasal," ujar Puan.

Puan menambahkan, pasal-pasal yang mendapat penolakan masyarakat, seperti penafsiran filsafat dan sejarah Pancasila dan lain-lain sudah tidak ada lagi. "Dalam konsideran mengingat (RUU BPIP) juga sudah terdapat Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966 tentang Pelarangan Partai Komunis Indonesia dan ajaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme," kata Puan.

RUU yang menguatkan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018 tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu, kata Puan, juga tidak akan dibahas dulu oleh DPR dan Pemerintah sebelum merasa mendapatkan masukan yang cukup dari seluruh elemen anak bangsa.

Baca juga: DPR Terima Surat Presiden tentang Usulan RUU BPIP dari Pemerintah

Sehingga hadirnya RUU BPIP itu menjadi kebutuhan hukum yang kokoh bagi upaya Pembinaan Ideologi Pancasila melalui Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. ​"DPR dan Pemerintah sudah bersepakat bahwa konsep RUU BPIP ini tidak akan segera dibahas tapi akan lebih dahulu memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk ikut mempelajari, memberi saran, masukan, dan kritik terhadap RUU tersebut," ujar Puan.

Adapun para Menteri yang menyertai Surpres tersebut antara lain Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Tjahjo Kumolo, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly, dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian.

Menkopolhukam kemudian bertugas menyerahkan Surpres tersebut secara simbolis kepada Ketua DPR RI Puan Maharani, disaksikan oleh Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel, Muhaimin Iskandar, Azis Syamsuddin dan Sufmi Dasco Ahmad.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: